“SATIR” ANTARA KRITIK DAN SELEBRASI (ANALISIS REAKSI WARGANET TERHADAP PERMOHONAN MAAF RATNA SARUMPAET)

Maria Christina Dodalwa

Abstract


Dalam ruang virtual, menyoal “satir” khususnya dalam kaitannya dengan etika sepertinya merupakan pemborosan waktu dan terkesan sangat lucu. Alibi utamanya adalah karena satir hanyalah bentuk lain dari narasi panjang atau tulisan formal yang berisi kritikan terhadap suatu persoalan. Sejauh makna tersiratnya mengungkap bentuk ketidakadilan, kecurangan ataupun kritik konstruktif yang berkaitan dengan kepentingan publik maka penelisikan lebih mendalam terkait aspek etika dianggap berlebihan. Alasan lainnya adalah bahwa persoalan etika baru akan diterima sebagai sesuatu yang urgen ketika menyangkut aktor politik, kejahatan structural, kolektif atau berbagai bentuk tindakan yang berada dalam tataran makro sedangkan pihak yang mempersoalkan etika seakan menjadi bebas nilai. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pandangan terhadap penggunaan meme bernuasa satir mencemooh dalam perspektif etika komunikasi. Simbol-simbol bernuansa satir diungkapkan dengan menggunakan simotik Charles Sanders Pierce

Full Text:

Untitled


DOI: https://doi.org/10.24076/PIKMA.2019v2i1.5542

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat redaksi :
Universitas AMIKOM Yogyakarta
Jl. Padjadjaran (Ringroad Utara), Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta.